Friday, 7 June 2013

SEJARAH SOSIAL : AWAL MASUKNYA ISLAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT

bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
;)



SEJARAH SOSIAL
AWAL MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT
 

 Oleh :
KELOMPOK 6
FAISAL AMIR HARAHAP
FITRI DINIATI
M. HASBI
MARDIANSYAH PRATAMA PUTRA
MASNUR AFIKA RIZAXI                           

Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau
T.A 2012/2013


  





KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai masuknya Islam ke Indoensia dan mengenai perkembangan daerah pesisir pasca masuknya Islam.
Islam merupakan agama yang mayoritasnya di anut oleh bangsa Indonesia, perkembangan Islam dan awal mula masuknya serta pengaruhnya terhadap masyarakat akan penulis bahas pada makalah yang penulis sajikan.
Penulis mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam hal penulisan dan pembuatan makalah ini, karena masih banyaknya kekurangan yang ada pada penulis sendiri. Terimakasih.
                                                                                                                    
                                                                                       Pekanbaru,  Mei 2013
                                                                                         
                                                                                                        Penulis




DAFTAR ISI


Kata Pengantar……………………………………………………………………………………...i
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………ii
Bab I Pendahuluan
A.  Latar Belakang………………………………………………………………………………1
B.  Rumusan Masalah………………………………………………………………………...…1
C.  Tujuan    …………………………………………………………………………………..…2

Bab II Pembahasan
A.     Masuknya Islam ke Indonesia ……………………………………………………….…...3
B.       Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan  di Indonesia……………….………………….7
C.       Munculnya Pemukiman-pemukiman di daerah pesisir ……………………………….…………8
D.       Cara-cara Islamisasi di Indonesia…………………………………………………………………………..11
Bab IV Penutup           
1.      Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………………14

Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………………15





BAB I
Pendahuluan
A.                      Latar Belakang
Masuknya Islam ke nusantara terbukti dengan banyak sumber, selain membawa pembaharuan di bidang agama untuk Indonesia, masuknya Islam juga membawa pengaruh terhadap perkembangan kota-kota pesisir yang ada di Indonesia  terutama kota-kota yang berada di jalur perdagangan.
Bukti Masuknya Islam Di Indonesia
1. Berita dari Dinasti Tang
2. Berita Dari jepang 749 M
3. Batu Nisan Fatimah Binti Maimun dari Leran (Gresik) sekitar tahun 475 H (1082 M)
4. Berita Dari Marcopolo Venesia, ltalia
5. Makam Sultan Malik Ash Shaleh yang di temukan sekitar bulan Ramadhan 676 H Atau 1297 M.
6. Berita Bahasa Dari MA-HUAN, 1416 M
7. Komplek Makam Tralaya dari Trowulan, Mojokerto, yang  berumur sekitar 1300-an s /d 1600-an.
B.                       Rumusan Masalah

1.      Bagaimana proses masuknya Islam di nusantara?
2.      Bagaimana perkembangan kemunculan pemukiman daerah pesisir pasca datangnya Islam di Indonesia?
3.      Bagaimana situasi politik kerajaan di Indonesia pasca datangnya Islam?
4.      Bagaimana proses masuknya Islam di tengah masyarakat?

C.                      Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk lebih mengenal dan memperdalam lagi serta mengkaji ulang mengenai bagaimana masuknya Islam di nusantara, serta untuk memberitahukan kepada pembaca mengenai perkembangan kota-kota pesisir pasca kedatangan Islam.

BAB II
Pembahasan
A.                      Masuknya Islam ke Indonesia
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.  Sejak zaman prasejarah penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas.Sejak awal abad masehiudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.Wilayah Barat Nusantara dan sekitar malaka, sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.
Sementara itu,pala dan cengkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia dan India juga ada yang sampai kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke- 7M (abad 1 H). Menurut J.C Van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur Barus terkenal. Dari berita Cina diketahui bahwa dimasa dinasti Tang (abad ke 9-10). Orang-orang Ta-shin sudah ada dikanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-shin adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia , yang ketika itu jelas sudah mejadi muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat Internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebakan oleh kerajaan Islam. Akan tetapi belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu yang beragama Islam. Baru pada zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni–koloni pedagang muslim itu. Sumber sejarah Ya Shalih yang memberikan kesaksian sejarah yang dipertanggungjawabkan tentang kembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historigrafi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “ komonitas Islam “ berubah menjadi kekuasaan.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan itu, perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu : Fase pertama : Singgahnya pedagang-pedagang Islam dipelabuhan-pelabuhan Nusantara , sumbernya adalah berita Luar negeri terutama Cina. Fase kedua : Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia sumbernya disamping berita-berita asing, juga makam-makam Islam, dan Fase ketiga : Berdirinya kerajaan- kerajaan Islam.
Berdasarkan sumber-sumber historis, kita dapat menemukan berbagai teori tentang masuk dan penyebaran Islam di Indonesia. Teori-teori tersebut juga sangat beragam mulai teori Gujarat, Persia, dan Arab.

1.      Teori Gujarat
Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 12 dan dibawa oleh para pedagang dari wilayah-wilayah dari anak benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Tokoh-tokoh yang mendukung teori ini antara lain Snouck Hurgronje, Pijnappel, dan Sucipto Wiryo Suparto.
Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.
Menurut Snouck Hurgronje, Islam masuk dari daerah Deccan di India. Hal ini dibuktikan bahwa ajaran tasawuf yang di praktikan oleh muslimin India selatan mirip dengan ajaran masyarakat muslim di Indonesia.
Bukti-bukti yang diajukan oleh Sucipto Wiryo Suparto untuk memperkuat dugaan bahawa Islam masuk dari Gujarat antara lain sebagai berikut.
1)    Ditemukan nisan Sultan Malik as-Saleh yang terbuat dari marmer sejenis dengan dengan nisan yang ada di India pada abad 13.
2)      Relief dalam makam Sultan as-Saleh mirip dengan yang ada di kuil Cambay, India.
3)      Proses Islamisasi mengikuti jalur perdagangan rempah-rempah yang berpusat di India.

Dalam perkembangannya, teori Gujarat ini banyak di tentang oleh para ahli karena mengandung beberapa kelemahan.

2.      Teori Persia
Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari tanah Persia (Iran), sedangkan daerah yang pertama kali dijamah adalah Samudera Pasai. Salah seorang pendukung teori ini adalah Oemar Amin Hoesin.
Teori ini berdasarkan kepada kesamaan budaya yang dimiliki oleh kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Salah satu contohnya adalah kesamaan dalam peristiwa peringatan 10 Muharam sebagai peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Untuk peringatan yang samam di daerah Sumatra ada juga tradisi yang bernama Tabut yang berarti keranda.

3.      Teori Arab
Teori ini menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Indonesia langsung dari Mekkah atau Madinah pada abad ke 7. Pendukung teori ini antara lain Hamka. Bahkan, menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh orang-orang Arab Islam generasi pertama atau para sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin.
Pada tahun 1963 M diselenggarakan seminar ilmiyah di kota Medan, Indonesia, untuk membicarakan tentang masuknya Islam ke Indonesia. Teori-teori yang kita bahas di atas tak luput dari pembicaraan pada seminar tersebut, yang pada akhir / kesimpulan seminar tersebut menghasilkan hal-hal sebagai berikut :
1)      Pertama kali Islam masuk ke Indonesia pada abad 1H/7M langsung dari negeri Arab.
2)      Daerah yang pertama kali dimasuki Islam adalah pesisir Sumatera Utara. Setelah itu masyarakat Islam membentuk kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Aceh
3)      Para Da’i yang pertama, mayoritas adalah pedagang. Pada saat itu dakwah disebarkan dengan damai.

Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.
Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.
Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.
Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.
B.                       Kondisi Dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan Di Indonesia
Cikal bakal kekuasaan Islam telah dirintis pada periode abad 1-5 H/ 7-9 M. Pada periode ini para pedagang dan muballig muslim membantu komunitaskomunitas Islam yang mengajarka toleransi dan persamaan derajat antara sesama. Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, Islam kepulauan Indonesia terhitung cepat meski dengan damai. Masuknya islam kedaerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang
bersamaan. Disamping itu,keadaan sosial politik dan budaya daerah ketika
didatangi Islam juga berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, kerajaan
Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenajung malaka sampai Kedah.
Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang muslim
diwilayah kekuasaannya. Kemajuan politik dan ekonomi sriwijaya berlangsung
sampai abad ke-12 M.
Pada abad akhir ke-12M, kerajaan Sriwijaya mulai memasuki masa kemundurannya. Kemunduran politik dan Ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usah-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedagang muslim untuk mendapatkan keuntungan- keuntungan politik dan perdagangan. Mereka
mendukung daerah-daerah yang muncul, dan daerah yang menyatakan diri
sebagai kerajaan bercorak Islam yaitu kerajaan Samudra Pasai dipesisir Timur
Luat Aceh. Daerah ini sudah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad
ke-7 dan ke-8 M. Proses islamisasi tentu berjalan disana sejak abad tersebut.
Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baik dalam bidang politik
maupun perdagangan.
Karena kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan
kekuasaan diistana, kerajaan Singasari, juga pelanjutnya, Majapahit, tidak mampu
mengontrol daerah Melayu dan Selat Maluku dengan baik, sehinnga Kerajaan
Samudera Pasai dan Maluku dapat berkembang dan mencapai puncak
kekuasaannya hingga abad ke-16 M.
C.                      Munculnya Pemukiman-Pemukiman Muslim Di Kota Pesisir
Menjelang abad ke-13 M, di pesisir Aceh sudah ada pemukiman
muslim.Persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang muslim di
Arab,Persia dan India memang pertama kali terjadi didaerah ini. Karena itu,
diperkirakan proses islamisasi sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi,
dapat diketahui bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatera Utara dan Timur
Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai palembang sudah banyak terdapat
masyarakat dan kerajaan-kerajaan islam. Akan tetapi, daerah- daerah yang belum
islam juga masih banyak,yaitu pelembang dan daerah-daerah pedalaman.proses
islamisasi ke daerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatera Barat terutama terjadi
sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan 17 M.
Sementara itu, dijawa, proses islamisai sudah berlangsung sejak abad ke-
11 M, mekipun belum meluas, perkebangan islam dipulau jawa bersamaan
waktunya dengan melemahnya posisi raja untuk membangun pusat-pusat
kekuasaaan yang independent.
1)      Pemukiman Muslim di Pulau Sumatera
Sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.
Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Seperti pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton. Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.
Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara. Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai-Aceh menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah.

2)      Pemukiman Muslim di Pulau Jawa
Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah. Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon.
Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan. Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.
Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.


3)      Pemukiman Muslim di Pulau Kalimantan
Para ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu. Di pulau ini, para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan sampai pada pesisir daerah Kalimantan Selatan yang dikenal juga dengan kesultanan banjar. Bahkan bisa di katakana mayoritas orang Kalimantan yang bersuku banjar adalah Islam, dan bisa dikatakan tidak ada satu pun dari orang banjar beragama lain, dan juga pada masyarakat yang ada di Kalimantan terkhusus orang dayak, apabila mereka sudah memeluk agama Islam mereka akan menyebut diri mereka dengan orang banjar. Cukup banyak ulama-ulama besar yang ada di Kalimantan, bahkan sampai ke wilayah serantau (Malaysia) diantaranya adalah K.H. Zaini Ghani atau lebih di kenal dengan Abah Guru sakumpul.

4)      Pemukiman Muslim di Pulau Sulawesi
Celebes atau Sulawesi, di tanah ini sudah bisa ditemui pemukiman Muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa yang beribunegeri di Makassar. Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaidin al Awwal dan Perdana Menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa pada tahun 1603. Sebelumnya, dakwah Islam telah sampai pula pada ayahanda Sultan Alaidin yang bernama Tonigallo dari Sultan Ternate yang lebih dulu memeluk Islam. Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanette, Luwu dan Paloppo.
5)      Pemukiman Muslim di Pulau Maluku
Kepulauan Maluku yang terkenal kaya dengan hasil bumi yang melimpah membuat wilayah ini sejak zaman antik dikenal dan dikunjungi para pedagang seantero dunia. Karena status itu pula Islam lebih dulu mampir ke Maluku sebelum datang ke Makassar dan kepulauan-kepulauan lainnya.
Kerajaan Ternate adalah kerajaan terbesar di kepulauan ini. Islam masuk ke wilayah ini sejak tahun 1440. Sehingga, saat Portugis mengunjungi Ternate pada tahun 1512, raja ternate adalah seorang Muslim, yakni Bayang Ullah. Kerajaan lain yang juga menjadi representasi Islam di kepulauan ini adalah Kerajaan Tidore yang wilayah teritorialnya cukup luas meliputi sebagian wilayah Halmahera, pesisir Barat kepulauan Papua dan sebagian kepulauan Seram. Ada juga Kerajaan Bacan. Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainulabidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Di tahun yang sama berdiri pula Kerajaan Jailolo yang juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam dalam pemerintahannya.

6)      Pemukiman Muslim di Pulau Papua
Beberapa kerajaan di kepulauan Maluku yang wilayah teritorialnya sampai di pulau Papua menjadikan Islam masuk pula di pulau Cendrawasih ini. Banyak kepala-kepala suku di wilayah Waigeo, Misool dan beberapa daerah lain yang di bawah administrasi pemerintahan kerajaan Bacan. Pada periode ini pula, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala-kepala suku di Pulau Papua memeluk Islam. Namun, dibanding wilayah lain, perkembangan Islam di pulau hitam ini bisa dibilang tak terlalu besar.

7)      Pemukiman Muslim di Nusa Tenggara
Islam masuk ke wilayah Nusa Tenggara bisa dibilang sejak awal abad ke-16. Hubungan Sumbawa yang baik dengan Kerajaan Makassar membuat Islam turut berlayar pula ke Nusa Tenggara. Sampai kini jejak Islam bisa dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah para Muslim sejak mula. Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-orang Bugis datang ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam di sana. Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan bahasa Bugis.

D.                      Saluran Dan Cara-Cara Islamisasi di Indonesia
Proses islamisasi memeng tidak berhenti sampai berdirinya kerajaankerajaan
islam, tetapi terus berlangsung intensif dengan berbagai cara dan saluran.
Kedatangan islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan
rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik suatu kerajaan
mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan berebutan kekuasaan
dikalangan keluarga istana, maka islam dijadikan alat politik bagi golongan
bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Apabila kerajaan
islam sudah berdiri, pengusanya melancarkan perang terhadap kerajaan NonIslam.
Hal itu bukanlah karena persoalan agama tetapi karena dorongan politik untuk
mengusai kerajaan-kerajaan disekitarnya. Menurut Uka Tjandrasasmita, saluransalura
islamisai yang berkembang ada 6 yaitu :
1.                        Saluaran Perdagangan
Pada taraf permukaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Sauran
islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan
bangsawan turut serata dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi
pemilik kapal dan saham. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7
hingga ke-16 membuat perdagangan-perdagangan muslim ( Arab, Persia dan
India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri dari bagian barat,
Tenggara dan Timur Benua Asia.
2. Saluaran Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status social yang
lebih baik dari pada kebanyakan pribumi sehingga penduduk pribumi, terutama
puteri-puteri bangsawan,tertarik untuk menjadi isteri-isteri saudagar itu. Sebelum
kawin, mereka di isalam kan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai
keturunan, keturunan mereka makin luas.akhirnya timbul kampong-kampung,
daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim.
3. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teosofi yang
beranpur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan
menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini puteri-puteri
bangsawan setempat dengan tasawuf “ bentuk “ islam yang diajarkan kepada
penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang
sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti
dan diterima.


4.      Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun
pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai- kyai dan ulama’-
ulama’ dipesantren atau pondok itu. Calon ulam’, guru agama dan kyai mendapat
pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang kekampung
masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan islam.
5.                        Saluran Kesenian
Saluran islamisasi malalui kesenian yang paling terkenal adalah
pertunjukan wayang. Sebagaian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita
mahaberata dan Ramayana, tetapi didalam cerita itu disisikan ajaran dan namanama
pahlawan islam, kesenian- kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi
seperti sastera (Hikayat, Babat dan Sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
6.                        Saluran Politik
Dimaluku dan sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk islam setelah
rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu
tersebarnya islam di daerah ini. Disamping itu, baik Sumatera dan Jawa maupun
di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam
memerangi kerajaan-kerajaan nonislam. Kemenangan kerajaan Islam setara
politik banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu masuk islam.

BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia perkembangan islam dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu :
-          Fase pertama : Singgahnya pedagang-pedagang Islam dipelabuhanpelabuhan
Nusantara .
-          Fase kedua : Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah
kepulauan Indonesia
-          Fase ketiga : Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Disamping itu keadaan politik dan social budaya daerah ketika didatangi
islam pada abad ke-7 sampai ke-10 M berbeda dengan sebelumnya. Keadaan
politik dan sosial pada waktu itu mulai membaik. Dan menjelang abad ke-13 M
mulai munculnya pemukiman- pemukiman islam dikota-kota pesisir.
Jadi kedatangan islam dan penyebarannya di Indonesia dilakukan secara
damai dan penyebarannya pun begitu pesat. Karena adanya saluran-saluran
islamisasi yang berkembang. Dan saluran-saluran tersebut ada 6 yaitu :
1.Saluran Perdagangan
2. Saluaran Perkawinan
3. Saluran Tasawuf
4. Saluran Pendidikan
5. Saluran Kesenian
6. Saluran Politik
Perkembangan kota-kota pesisir seiring dengan berkembangnya Islam di nusantara, pengaruh dari Islam sebagai agama baru yang bisa di terima masyarakat dengan terbuka membuat perkembangannya di daerah-daerah pesisir juga pesat, terutama daerah perdagangan atau daerah pelabuhan yang menjadi pusat awal mulanya masuknya Islam.



DAFTAR PUSTAKA


Buku Bacaan
Al – Usairy, Ahmad. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga abad XX.
Dhiya’ , Muhammad. Al Islam fi Indonesia.
Dr. Yatim, Badri M.A. Sejarah Peradaban Islam.
Umatin, Nur Khoiro dan Khabib Basori. 2010. Pendidikan Agama Islam untuk SMA/MA. Klaten: Intan Prawira

Internet
Al-Farisi, Rudi Arlan. Sejarah Kedatangan Islam di Indonesia. www.spistai.blogspot.com. 2009
Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia.www. siap-sekolah.com.

No comments:

Post a Comment