Monday, 19 May 2014

PERISTIWA PEMBAKARAN HOTEL MOUNTBATTEN (HOTEL MERDEKA) PEKANBARU


Setelah jepang menyerah kalah kepada sekutu, maka di Pekanbaru datanglah militer-militer Inggris mewakili Sekutu dengan tujuan melucuti senjata jepang dan mengembalikan mereka ke tanah airnya. Pasukan inggris dipimpin oleh mayor Langley menduduki syonato hotel dan di jadikan markas sekutu dengan merubah nama hotel tersebut menjadi “Mountbatten Hotel”.
Melihat perubahan ini massa mulai marah, ditambah pula semangat pemuda waktu itu mulai menyala, setelah tanggal 10 november malam mendengar berita bahwa hotel Oranye di serbu rakyat Surabaya, dalam waktu singkat siang hari tanggal 12 Nopember1945 itu diseluruh massa sudah berada di halaman markas BKR/PRI masing-masing telah siap sedia dengan senjata apa saja minta komando pada Hasan Basri untuk menggempur hotel mountbatten.
Dari markas pemuda dan rakyat di gedung sihangakko atas komando hasan basri, pada tanggal 18 nopember 1945/ 6 oktober 1945 Hotel mountbatten telah di kepung oleh kurang lebih seribu orang pemuda dan rakyat yang bersenjata tombak, bamboo runcing, parang, pentungan dan sebagainya. Secara naluriah para pemuda dari pelosok-pelosok kota Pekanbaru, mengetahui adanya penyerbuan itu secara berbondong-bongdong menyusul kawan-kawanya yang telah menyerbu terlebih dahulu.
Diluar pekarangan di jalan raya serdadu belanda dengan senjata lengkap telah mondar-mandir, di iringi oleh serdadu-serdadu jepang dari jarak jauh, untuk menakut-nakuti pasukan Indonesia.
Dengan meluapnya massa memenuhi jalan raya menyebabkan kendaraan belanda dan jepang yang lalu-lalang pun tidak melintas lagi, hilang dari pandangan. Adanya rasa takut dari tentara jepang maupun belanda dengan keadaan yang tidak stabil saat itu di pekanbaru, hal ini di akibatkan karena semangat pemuda saat itu sangat menyala.
Sementara itu Residen malik menelepon Hasan Basri untuk menyelesaikan  masalah bendera belanda yang berkibar di atas hotel tersebut, utusan kempetai jepang dating menemui penulis meminta supaya massa di bubarkan.
Setelah meredakan massa dan memberikan petunjuk agar massa mengambil posisi berpencar dan siap tempur dan memanggil dan menunjuk komandan pasukan: Tugimin di jalan tengah sasaran hotel mountbatten dan sarjono di jalur kiri – jalur belakang hotel muontbatten pasukan wiyono dan lain-lain, hasan basri sebagai komando utama berangkat menuju rumah raden Yusuf Surya atmaja untuk melaporkan situasi seterusnya bersama –sama raden yusuf dengan menaiki mobil pick up Chevrolet kempetai (polisi militer jepang) disertai saiman jamian selaku penerjemah berangkatlah mereka ke markas pertahanan jepang (sekarang gedung kejaksaan pekanbaru). Sedangkan di markas Himron saheman bersiap-siap berjaga untuk mempertahankannya.
Perundingan antara komandan hasan basri, raden yusuf, toha hanafi dan saiman jamian sebagai penerjemah dengan utusan dari sekutu yang di wakili oleh mayor lankley. Dalam Tanya jawab Lankley menyatakan bajwa dalam tempo 2 minggu yang berakhir pada tanggal 26 nopember 1945 seluruh pasukan belanda akan di ungsikan ke Padang, untuk menjaga keamanan sepeninggalan pasukan belanda akan diserahkan jepang kembali sampai pada ketentuan lain.
Selesai perundingan mereka (perwakilan Indonesia) pulang kembali melewati Batu I, massa yang tidak terkendali kala itu langsung menyerbu memanjat hotel mountbatten, preman pasar yang naik ke teras menurunkan bendera Belanda, (bendera inggris tidak diganggu) merobekkan yang biru dan menaikkan kembali, “Merah Putih”-nya, tugimin dan beberapa perwira BKR menyaksikan keberanian preman-preman ini, sorak sorai pekik merdeka pun kedengaran dengan kerasnya. Pada kala itu pasukan jepang yang berjaga di hotel mountbatten tidak dapat berbuat apa-apa melihat kejadian itu, ketakutan para tentara yang menjaga hotel terlihat dari tidak bergemingnya mereka saat penurunan bendera belanda dan menyobeknya oleh orang Indonesia.
Rupanya Belanda dan Inggris telah terlebih dahulu, di ungsikan oleh jepang ke kamp. Tangkerang, sebelum terjadi penyerbuan tersebut, sehingga yang di dapati ruangan kosong dan makanan kaleng saja, serta beberapa orang belanda pria dan wanita yang bergegas turun dari hotel. Dan juga menurut sumber lain saat penggeledahan hotel mountbatten pasukan Indonesia yang terdiri dari pemuda, preman pasar, dan bias dikatakan masyarakat juga menemukan beberapa pucuk senapan mesin dan beberapa pucuk senjata ringan lainnya. Sementara itu pasukan jepang tidak bias berbuat apa-apa, mereka hanya berjaga-jaga agar massa tidak melintasi tentara jepang yang bermarkas di sekitar gereja di jalan ahmad yani sekarang.
Setelah selesai menyerang hotel mountbatten, massa tidak puas dengan keadaan, massa kembali ingin menyerbu kamp. Belanda yang ada di tangkerang, belum sempat mereka sampai mereka di cegat oleh R. Yusuf Suryaatmadja, yang memerintahkan agar massa  tidak melanjutkan penyerbuan itu dikarenakan takutnya akan jatuh korban dipihak sendiri. Akhirnya para massa pulang ke markas masing-masing.
Setelah itu ada lagi penyerbuan pemuda terhadap kamp. Belanda di Km 3 Tangkerang dan berhasi melukai beberapa orang belanda (muchtar lutfi,Eds.,1977:500-501), sementara pada sumber lain mengatakan bahwa sewaktu ketua KNI Raden Yusuf melaporkan peristiwa perundingan pada rakyat, pemuda-pemuda extremis tidak dapat menerimanya, malahan bertekad menyerbu kamp. Belanda di tangkerang (Km 4) juga, Raden Yusuf melanjutkan jika ada yang tidak patuh pada perundingan yang telah di capai (sambil membuka kemeja) beliau menyatakan tembaklah saya sekarang, karena ucapan tersebut suasana jadi hening dan masing-masing tahu diri, disini lah terciptanya untuk pertama kali, kemanunggalan ABRI dan rakyat Riau
Setelah semua berkumpul di Hotel Mountbatten, hasan basri dan raden yusuf menyampaikan hasil perundingan dengan pihak inggris, bahwa mereka akan mengungsikan belanda ke padang dalam tempo 2 minggu. Tanggal 26 November 1945 hari terakhir pemberangkatannya. Dan pada sumber lain di sebutkan waktunya adalah hari. Mengenai untuk pemberangkatan tentara jepang di serahkan kepada pemerintah RI Riau, sejak saat itu hotel Mountbatten diganti nama menjadi hotel Merdeka.
Setelah peristiwa tersebut tentara belanda dan sekutu meninggalkan pekabaru menuju padang. Waktu agresi belanda II tanggal 21 Desember 1948 Hotel Merdeka, jam 10.00 wib dibakar oleh pihak Indonesia supaya jangan di gunakan kembali oleh belanda (wawancara H. Raja Roesli di Pekanbaru).

Daftar pustaka :
Yusuf, Ahmad,dkk.2004.Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-1958.Pekanbaru: Badan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau atas kerjasama MSI Cabang Riau, LVRI/DHD ’45, dan LAMR
Basri, Hasan.1985.Cacatan Seorang Pejuang Menegakkan Merah Putih di Daerah Riau – menyambut 40 Tahun Indonesia Merdeka.Pekanbaru: Yayasan Penerbit Masyarakat Sejarawan Indonesia Daerah Tingkat I Provinsi Riau



No comments:

Post a Comment