Saturday, 17 May 2014

LITERATUR KERAJAAN SIAK SRI INDRAPURA ( SIAK SRI INDRAPURA KINGDOM LITERATURE)




Istasna Siak
Kerajaan Siak merupakan kerajaan melayu yang berada di Propinsi Riau terletak di Kabupaten Siak,Indonesia. Didirikan pertama kali di Buantan oleh Raja Kecil (Raja Ibrahim) yang merupakan anak dari selir Sultan Mahmud karena permaisuri Sultan tiada anak, sehingga pada tahun 1699 Sultan Mahmud Syah II wafat digantikan oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV. Kemudian Raja Kecil melarikan ke Pagar Ruyung, pada tahun 1708 Sultan Abdul Jalil Riayat Syah memindahkan ibukota Johor ke Bintan,Kepri.  Setelah dewasa Raja Kecil di daulat menjadi Sultan di Bengkalis dan melakukan penyerbuan terhadap Sultan Abdul Jalil dan akhirnya kalah sehingga menyerahkan kekuasaannya kepada Raja Kecil, Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung, didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Sementara Raja Kecil dalam Hikayat Siak disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC. Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri, yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.  Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.
Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh. Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka  Pada tahun 1718 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun pada tahun 1722 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor, dibantu oleh pasukan bayaran dari Bugis. Akhir dari peperangan ini, Raja Sulaiman mengukuhkan diri menjadi penguasa Johor di pedalaman Johor, sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan kemudian tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura. Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor diakui oleh komunitas Orang Laut, kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan kepulauan membentang dari timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan dan loyalitas ini terus bertahan sampai kepada beberapa keturunan Raja Kecil berikutnya.
Raja Kecil menjadi Sultan dan menetapkan Johor sebagai ibukota kerajaan Melayu sehingga adanya tindakan Raja kecil terhadap Sultan Abdul Jalil adalah SBB:
-          Sultan Abdul Jalil dikembalikan fungsinya sebagai Datuk Bendahara
-          Semula Raja Kecil akan mengawini Tengku Tengah kemudian berpindah ke Tengku Komariah, Tengku Tengah merasa dipermalukan oleh Raja Kecil
-          Tidak semua pembesar kerajaan memihak kepada Raja Kecil, karena pusat pemerintahan Riau-Johor dipindahkannya ke Bintan tahun 1719.
-          Raja Kecil menggulingkan Datuk Bendahara kemudian dibunuh oleh Nahkoda Sekam.
Akibatnya perbuatan Raja Kecil, Putra Datuk Bendahara meminta bantuan Bugis untuk menggulingkan Raja Kecil, Pasukan Gabungan (Bugis dan Datuk Bendahara) melakukan pertempuran di Pulau Pengujan,Bayan,Penyengat dan Tanjung Bemban. Sehingga Raja Kecil melarikan diri ke Siak. Dan akhirnya mendirikan Kerajaan Siak sedangkan di Bintan Sultan Suleiman menjadi Raja Melayu bergelar Sultan Suleiman Badrul Alamsyah sebagai hadiah terhadap orang-orang Bugis maka Sultan memberikan mereka kedudukan sebagai Yang Dipertuan Muda Riau.

Masa Kejayaan, Kemunduran, Situasi Politik dan Ekonomi.
Lambang Kerajaann Siak
Sepeninggal Raja Kecil tahun 1746, klaim atas Johor memudar, dan pengantinya Sultan Mahmud fokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatera dan daerah vazal di Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya. Pada tahun 1761,
Sultan Siak membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan. Walau kemudian muncul dualisme kepemimpinan di kerajaan ini yang awalnya tanpa ada pertentangan di antara mereka, Raja Muhammad Ali, yang lebih disukai Belanda, kemudian menjadi Sultan Siak, sementara sepupunya Raja Ismail, tidak disukai oleh Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan, membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh.Sekitar tahun 1767, Raja Ismail, telah menjadi duplikasi dari Raja Kecil, didukung oleh Orang Laut, terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka, kemudian menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat. Sebelumnya Raja Ismail juga turut membantu Terengganu menaklukan Kelantan,
Hubungan ini kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail dengan saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu sangat signifikan mulai dari Terengganu, Jambi dan Palembang. Laporan Belanda menyebutkan Palembang telah membayar 3000 ringgit kepada Raja Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan, sementara Hikayat Siak menceritakan tentang kemeriahan sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan Serdang. Di bawah ikatan perjanjian kerjasama dengan VOC, pada tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC menyerang dan menundukkan Selangor, sebelumnya mereka telah bekerjasama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.  Kesultanan Siak Sri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut.  Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang menyebutkan pada tahun 1783, ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka. Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau Pinang.


 Namun disisi lain kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat al-Nafis, di mana dalam deskripsi ceritanya mereka mengambarkan Sultan Siak sebagai orang yang rakus akan kekayaan dunia.  Peranan Sungai Siak sebagai bagian kawasan inti dari kerajaan ini berpengaruh besar terhadap kemajuan perekonomian Siak Sri Inderapura. Sungai Siak merupakan kawasan pengumpulan berbagai produk perdagangan, mulai dari kapur barus, benzoar bahkan timah dan emas. Sementara pada saat bersamaan masyarakat Siak juga telah menjadi eksportir kayu yang utama di Selat Malaka serta salah satu kawasan industri kayu terutama untuk pembuatan kapal maupun untuk bangunan. Dengan cadangan kayu yang berlimpah, pada tahun 1775 Belanda mengizinkan kapal-kapal Siak mendapat akses langsung kepada sumber beras dan garam di Pulau Jawa, tanpa harus membayar kompensasi kepada VOC namun tentu dengan syarat Belanda juga diberikan akses langsung kepada sumber kayu di Siak, yang mereka sebut sebagai kawasan hutan hujan yang tidak berujung.
Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan Semenanjung Malaya cukup signifikan, mereka mampu mengantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan, selain itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan, yang sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Malaka. Namun demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di pedalaman Minangkabau yang dikenal dengan Perang Padri. Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau Sumatera tidak mampu dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya Kesultanan Deli, Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat, kemudian muncul Inderagiri sebagai kawasan mandiri. Begitu juga di Johor kembali didudukan seorang sultan dari keturunan Tumenggung Johor, yang berada dalam perlindungan Inggris di Singapura. Sementara Belanda memulihkan kedudukan Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat dan kemudian mendirikan Kesultanan Lingga di Pulau Lingga. Selain itu Belanda juga mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Residentie Riouw pemerintahan Hindia-Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang.


 Tarik ulur kepentingan kekuatan asing terlihat pada Perjanjian Sumatera antara pihak Inggris dan Belanda, menjadikan Siak berada pada posisi yang dilematis, berada dalam posisi tawar yang lemah. Kemudian berdasarkan perjanjian pada 26 Juli 1873, pemerintah Hindia-Belanda memaksa Sultan Siak, untuk menyerahkan wilayah Bengkalis kepada Residen Riau. Namun di tengah tekanan tersebut Kesultanan Siak masih mampu tetap bertahan sampai kemerdekaan Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar kekuatan militer Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi. Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir yang tidak memiliki putra, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan negara Republik Indonesia sehingga hal ini membuat Kerajaan yang berada diPesisir Timur Sumatera menanggalkan pemerintahan yang berbentuk kerajaan dan menggabungkan diri dengan Republik Indonesia
DAFTAR RAJA-RAJA SIAK SRI INDRA PURA
TAHUN
NAMA
PERISTIWA
1723-1746
Yang Dipertuan Besar Siak, Sultan Abdul Jalil Syah

1746-1761
Sultan Abdul Jalil Syah II, Sultan Mahmud
Memindahkan pusat pemerintahan ke Mempura
1761-1761
Sultan Abdul Jalil Syah III, Raja Ismail[
Dipaksa VOC turun tahta, kemudian berkelana selama 18 tahun
1761-1770

Masa peralihan
1770-1779
Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah, Raja Muhammad Ali
Johor telah menjadi bagian dari Siak Sri Inderapura, Mengizinkan pendirian Kerajaan Negeri Sembilan tahun 1773
1779-1781
Sultan Abdul Jalil Syah III Raja Ismail
Sultan Abdul Jalil Syah III
 Raja Ismail
1781-1791
Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah,  Sultan Yahya
Pada tanggal 1 - 8 - 1782 membuat perjanjian dengan VOC dalam berperang melawan Inggris, Meninggal dunia tahun 1791 dan dimakamkan di Tanjung Pati (Che Lijah, Dungun, Terengganu, Malaysia)
1791-1811
Sultan Abdul Jalil Saifuddin, Sultan Sayyid Ali
Putra dari Sayyid Osman al-Syaikh 'Ali Ba' Alawi, yang menikahi cucu perempuan Raja Kecil
1811-1827
Sultan Abdul Jalil Khaliluddin, Sultan Sayyid Ibrahim
Membuat perjanjian kerjasama dengan Inggris tanggal 31 Agustus 1818. Kemudian dengan Belanda tahun 1822 Pengaruh dari Perjanjian London tahun 1824, beberapa wilayah Siak lepas dan menjadi bagian dari kolonialisasi antara Inggris dan Belanda. Johor lepas dari Siak, berada dalam pengawasan Inggris. Pulau Lingga menjadi wilayah pengawasan Belanda.
1827-1864
Sultan Abdul Jalil Jalaluddin,  Sultan Sayyid Ismail, Mangkubumi Sayyid al-Syarif Jalaluddin 'Ali Ba' Alaw
Menerima perjanjian baru dengan Inggris tahun 1840. Tahun 1864 dipaksa Belanda turun tahta
1864-1889
Sultan Syarif Kasim I
Pengangkatannya mesti disetujui oleh Ratu Belanda, Belanda menempatkan controleur di Siak, Diperebutkan oleh Inggris dan Belanda dalam Perjanjian Sumatera
1889-1908
Yang Dipertuan Besar Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin, Sultan Syarif Hasyim
Meresmikan Istana Siak Sri Inderapura
1915-1945
Yang Dipertuan Besar Syarif Kasyim Abdul Jalil Saifuddin, Sultan Syarif Kasim II
Menyerahkan kerajaannya pada pemerintah Republik Indonesia
SUMBER:
*Berdasarkan catatan Belanda, Raja Ismail lebih dikenal sebagai bajak laut.
**Berdasarkan Syair Perang Siak
Ket:   Bahwa Belanda yang bercokol di kawasan bumi melayu memberikan praktek pecah belah(devided et impera)  antara kerajaan yang ada disekitar, sehingga memperlemah kerajaan melayu adanya suatu kepentingan meduduki kekuasaan ini juga memperlemah hegemoni kerajaan tersebut yang membuat mereka bertahan hanyalah satu yaitu terpaksa mengikuti kehendak Belanda supaya dalam kegiatan politik,ekonomi tidak menimbulkan korban jiwa. Dengan tarik-ulur perjanjian dan siasat yang bisa membuat bertahan walaupun diantara mereka ada yang berselisih sehingga belajar dari pengalaman dan sejarah itulah mereka bisa bertahan.
Sumber *) Asril,Spd.2008.module Sejarah Riau.Pekanbaru:Cendekia Insani
                        www.Wikipedia.Org Kesultanan Siak Sri Indrapura

                        

No comments:

Post a Comment